| Window Pane | KyuMin | Fanfiction | Chapter 1


Suasana kelas di sebuah sekolah menengah atas nampak riuh. Terlihat di tengah-tengah kerumunan disana duduk seorang anak lelaki yang begitu menikmati pertunjukkan di depannya.

Kyuhyun menatap santai dan penuh senyum merendahkan kearah seorang anak lelaki lainnya yang berada di hadapannya. “Bisa kau sebutkan lagi apa pekerjaan ayahmu?” Tanya Kyuhyun dengan senyum brengseknya. Membuat anak lelaki yang ditanya itupun makin merundukkan kepalanya. Semua mata kini tertuju kearahnya. Nampak mencemooh dan penuh dengan penghinaan.

“Sobat. Kenapa kau tidak menjawab? Apa kau malu? Tidak kan?” Kyuhyun kembali berkata diiringi dengan suara tawa dari murid lainnya. Pemuda Cho tersebut kembali menatap sosok di hadapannya dengan pandangan yang penuh intimidasi ketika ia melihat belum adanya tanda-tanda lelaki itu menjawab pertanyaannya membuat sosok Kyuhyun memasang wajah sok prihatinnya.

“Orangtuamu akan sedih melihat anaknya yang malu karena mereka. Kasihan sekali.” Nada bicara Kyuhyun terdengar sengaja dibuat menyedihkan. Membuat laki-laki yang sedang dipojokkan tersebut begitu muak. Namun apa daya dirinya? Dia tidak bisa melakukan apapun untuk membela diri disini.

Ia merasa kondisi saat ini begitu mendesak. Satu persatu umpatan terlempar kearahnya dan itu membuatnya tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan selain menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan jujur.

“Buruh pabrik.” Singkat dan lemah. Namun itu cukup membuat senyum Kyuhyun berkembang mendengar jawaban tersebut. “Berapa gajinya?” Seperti tak memiliki perasaan kasihan secuilpun. Kyuhyun melanjutkan pertanyaan yang sarat akan penghinaan tersebut. Membuat anak laki-laki yang sedari tadi tertunduk itupun seketika mendongak saat Kyuhyun menanyakan hal itu padanya. Entah kenapa mendengar pertanyaan itu membuatnya makin merasa terhina.

“Apa lebih mahal dari jam tangan ini?” Kyuhyun menunjukkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Atau mungkin lebih mahal dari ini?” Kini Kyuhyun menunjuk kearah pulpen yang tersampir di kantung blazzernya.

Tawa bernada mencemooh langsung memenuhi isi kelas tersebut. Berbeda dengan lelaki yang dipojokkan disana. Suara tawa itu membuat senyum Kyuhyun kian terkembang. “Sampah.” Kata itu terdengar begitu menusuk dan tajam. Kyuhyun menyebutkannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Membuat sosok yang tengah dipojokkan tersebut tak lagi bisa membendung kemarahannya.

PRAK

Kondisi riuh itu langsung diam seketika saat pintu kelas terbuka dengan menimbulkan bunyi yang cukup keras. Kyuhyun menatap sosok yang baru saja muncul itu dengan tajam. Lee Donghae, Sejak kepindahan sosok itu ke sekolah ini dulu. Kyuhyun begitu tidak menyukainya.

Sosok itu hanyalah salah satu visualisasi dari kata ‘Sampah’ yang selalu ia lemparkan kearah orang-orang miskin yang membuatnya selalu merasa terganggu. Dan untuk beberapa saat tatapan antara Kyuhyun dan Donghae bertemu.

“Sungjae-ah. Kembali ke tempat dudukmu.”

Donghae menyuruh laki-laki yang tengah dipojokkan tersebut agar kembali ke tempat duduknya. Membuat Kyuhyun langsung mengeraskan rahangnya bertanda marah. Berani-beraninya sampah ini menyuruh Sungjae pergi? Sungjae disini karenanya, jadi kalau dia akan pergi maka juga harus karenanya.

“Tetap disini, Sungjae-ah. Kita berteman kan, sobat?” Kyuhyun menatap Sungjae dengan senyum manisnya. Namun itu terlihat mengerikan untuk Sungjae. Laki-laki itu bingung, siapa yang harus ia turuti? Sejujurnya saja dia ingin mengikuti perkataan Donghae untuk pergi. Tapi pergi melarikan diri dari Kyuhyun bukanlah solusi yang baik. Orang itu iblis. Dia bisa melakukan hal yang lebih daripada ini. “Kembalilah ke tempat dudukmu, Kim Sungjae.” Donghae menajamkan nada suaranya. Membuat Sungjae sedikit bergerak dari posisinya. Kyuhyun diam untuk beberapa saat. Donghae sedang melawannya ya? Apa yang bisa digunakan dari Sampah sepertinya untuk melawannya?

“Wow.. Sungguh mengharukan. Pertunjukkan sampah yang sedang membela sampah, eoh?” Kyuhyun berdiri dari kursi yang ia duduki. Murid-murid lain yang masih disana hanya diam tak ingin ikut campur. Kalau tadi mereka bisa terang-terangan mengolok-olok Sungjae. Maka ini berbeda. Donghae adalah Ketua Osis disini.

“Sobat. Silahkan duduk. Kau pasti lelah.” Kyuhyun menepuk bahu Sungjae dan menyuruhnya kembali ke tempat duduk. Dan kini matanya kembali tertuju kearah Donghae. Ia berjalan mendekati sosok tersebut dan berhenti ketika wajahnya sudah berada tepat di depan Donghae.

Donghae membalas tatapan Kyuhyun padanya. Dia tahu dengan siapa ia berhadapan. Kyuhyun adalah pemegang kekuasaan di sekolah ini. Orangtuanya adalah donatur utama di sekolah. Tidak sepertinya yang hanya seorang murid hasil kerendahan hati dari program beasiswa. “Kau membuatku marah, Teman.” Ucap Kyuhyun pelan. Senyumnya masih terkembang. Namun percayalah itu bukan senyum penuh keramahan.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kau bangga-banggakan disini. Tapi yang jelas.. Apa uangmu itu adalah uang yang kau dapatkan sendiri?” Kyuhyun terkekeh mendengar ucapan Donghae. Entah apa yang membuatnya tertawa. “Mencoba membuatku kesal dengan ucapanmu, teman? Sayangnya tidak.” Kyuhyun berhenti tertawa bahkan ia berhenti tersenyum. Saat ini wajahnya berubah begitu dingin. “Tunggu hadiah spesial dariku. Oke?”

.

.

WINDOW PANE

KyuMin © God

Story © Chizawa Lynch

Rated : T+

~KyuMin~

Warning : Mungkin OOC, Typo, Gaje. dll.

Genre : Drama, Hurt & Romance.

Length : Chaptered.

.

Boys Love

.

Point of View : Author

.

0o0o0

Chapter 1

.

Kyuhyun menjentuk-jentukkan jari tangannya di atas kemudi. Matanya menatap lampu merah yang berada di hadapannya. Alhasil ia harus berhenti sejenak. Entah kenapa rasa kebenciannya pada Donghae kembali muncul di saat seperti ini.

Demi Tuhan, rasanya ingin sekali ia menunjukkan kekuasaan dari uang yang Sampah itu bilang bahwa itu bukan hasil dari dirinya sendiri. Bahkan dengan uang yang bukan miliknya sendiri Kyuhyun bisa membuat Donghae bertekuk lutut di atas kakinya.

Mata Kyuhyun terhenti kearah sesosok pengendara motor tepat di samping mobilnya. Sepertinya sosok itu hanyalah karyawan yang sedang melakukan jasa pengiriman makanan. Untuk sejenak Kyuhyun tersenyum licik. Tiba-tiba dia tahu apa yang harus ia lakukan pada sosok Donghae.

“Kau melakukan kesalahan, Donghae-ah.” Desis Kyuhyun dengan suara pelan. Senyum liciknya mengembang begitu saja.

.

.

Sungmin kembali menjalankan sepeda motor yang ia kendarai saat lampu merah disana sudah berganti menjadi warna hijau. Setelah 10 menit ia mengendarai motor tersebut akhirnya ia berhenti tepat di depan sebuah rumah makan.

Setelah memarkirkan motor Sungmin pun masuk ke dalam rumah makan tersebut dan langsung menyerahkan uang beserta kunci motor yang berada di tangannya. “Tuan.. Ini uang yang didapatkan hari ini. Dan juga, ini kunci motornya.”

Sungmin berdiri tepat di hadapan bosnya. Pemuda itu nampak menunggu apa yang akan dikatakan oleh bosnya itu. “Donghae masih sibuk ya? Kulihat akhir-akhir ini kau terus yang menggantikannya bekerja?”

“Ne, Donghae sedang menyiapkan ujian negara-nya dekat-dekat ini. Aku takut apabila ia harus bekerja akan menganggu jam belajarnya. Berhubung jadwalku di kampus tidak terlalu padat. Jadi kurasa tidak apa menggantikan pekerjaannya untuk sementara waktu.” Terang Sungmin. “Kalian bersaudara sangat kompak.” Ucap bosnya. Sungmin hanya tersenyum ramah mendengarnya lalu berpamitan untuk pulang. Setelah mengganti seragamnya dengan baju miliknya. Sungmin langsung pergi menuju halte untuk menunggu bus. Hari ini begitu terasa melelahkan. Dari pagi sampai siang ia kuliah. Sore harinya ia bekerja menjadi pengasuh di Panti asuhan. Lalu malamnya harus menggantikan pekerjaan adiknya. Tapi biarpun begitu. Sungmin tidak keberatan sama sekali. Hidup itu harus dihadapi bagaimanapun keadaannya.

Setelah ia turun dari bus, Sungmin berjalan di lorong-lorong kecil yang menjadi akses menuju rumahnya. Ketika ia sampai, langsung saja ia membuka pintu dan langsung disambut oleh wajah adiknya yang tengah belajar. Sungmin sangat bangga dengan adiknya. “Hyung sudah pulang?” Tanya Donghae tanpa mengalihkan fokusnya pada buku yang tengah ia baca.

“Eum.” Sungmin langsung melepas jaketnya lalu merebahkan diri di kursi panjang yang ada disana. Mendengar bunyi derit sofa yang nampak baru saja diduduki, membuat Donghae mengangkat wajahnya dan menatap Sungmin.

“Sebenarnya Hyung tidak perlu menggantikan pekerjaanku. Sejujurnya saja aku masih bisa melakukannya.”

Sungmin menghela nafas panjangnya. Sudah ia kira kalau adiknya akan mengatakan hal seperti ini lagi. “Sudahlah. Pekerjaanmu saat ini hanya belajar. Kalau kau sudah lulus dan nilaimu bagus. Kau bisa melanjutkan di perguruan tinggi dan bekerja lagi kalau kau mau.”

“Tapi Hyung seharian terus kuliah dan bekerja. Aku takut Hyung sakit.” Sungmin tersenyum mendengar ucapan Donghae, adiknya. Mereka hanya hidup berdua. Selepas keluar dari Panti Asuhan yang telah merawat mereka. Sungmin dan Donghae terus banting tulang guna memenuhi kebutuhan hidup.

Beruntung kedua kakak beradik ini sama-sama memiliki otak yang cerdas, sehingga bisa sedikit membantu biaya pendidikan dengan mendapatkan beasiswa. “Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Belajarlah yang giat. Araso?”

Donghae diam sejenak. Hyungnya memang keras kepala. “Araso.” Ucapnya antara setuju dan tidak setuju.

.

.

Kyuhyun tersenyum seharian ini. Matanya menatap kearah bangku kosong yang berada di sudut depan kelas, Bangku Donghae. Sejak hari dimana ia menyuruh seseorang untuk merusak rem kendaraan yang sering digunakan oleh Donghae saat bekerja. Ini sudah dua hari Sampah itu tak masuk. Apa orang itu sedang sibuk mencari pekerjaan lain karena telah dipecat? Rasanya Kyuhyun begitu yakin kalau Donghae telah dipecat. Merusak kendaraan yang bukan miliknya tentu saja akan membuatnya dipecat. Kyuhyun sama sekali tidak pernah memikirkan apa yang telah ia lakukan akan mengakibatkan dampak lain. Yang jelas ia sudah mendengar kabar dipecatnya Donghae dari tempat kerja dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tersenyum puas.

PRAK

Kyuhyun menoleh kearah pintu yang baru saja dibuka secara paksa. Akhirnya sampah itu muncul juga. Melihat wajahnya yang begitu lelah membuat Kyuhyun kian bersorak bahagia.

Dengan secepat kilat Donghae menghampiri Kyuhyun dan tanpa aba-aba langsung menerjang sosok itu lalu mencengkram kerah bajunya. Seumur hidup Kyuhyun melihat Donghae. Dan seberapa tahu ia sudah berkali-kali membuat sosok itu jengkel. Tapi baru kali ini ia melihat kemarahan yang begitu mendarah daging dari pemuda tersebut.

“Apa kau menyebut dirimu manusia?!” Donghae yang biasanya berwatak tenang hari ini akhirnya meledak. Seisi kelas langsung terdiam tak bersuara melihat kemarahan Donghae tersebut. Mata itu menjoros tajam menatap Kyuhyun.

“Kau iblis.. Aku tahu kau yang melakukannya brengsek!” Bentak Donghae. Pemuda itu masih terlihat berupaya untuk mengendalikan emosinya. Sementara itu Kyuhyun hanya memasang wajah tenangnya. “Sudah sadar? Aku hanya ingin menunjukkan kekuasaan dengan uang yang bukan milikku, setidaknya itu yang sempat kau katakan.” Ucap Kyuhyun berbisik hingga hanya Donghae yang bisa mendengarnya. Tangan Donghae bergetar. Kyuhyun sangat begitu yakin kalau pria ini sedang menahan agar tidak membunuhnya. “Kau bukan manusia. Bagaimana bisa kau menyebut dirimu manusia?” Donghae berujar dengan emosi yang begitu tertahan. Kyuhyun tidak pernah tahu bahwa kehilangan pekerjaan akan membuat Donghae sebegini terpuruknya? Bahkan ia bisa melihat airmata dari mata pemuda itu. Kenapa Donghae.. Menangis? “Kau akan mendapatkan balasannya.” Suara Donghae terdengar nyaris berbisik. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk bisa didengar oleh Kyuhyun.

“Demi Tuhan.. Aku akan berdoa tiap malam agar kau mendapatkannya.” Cengkraman itu kian mengeras pada kerah bajunya, Kyuhyun merasakannya. “Karma.. Karma yang cukup bisa membuatmu merasa bersalah seumur hidupmu. Ingat itu baik-baik.” untuk sesaat entah kenapa ucapan Donghae tersebut membuat Kyuhyun terhenyak. Namun dengan cepat pemuda Cho itu menepis cengkraman Donghae pada kerahnya dan mendorong Donghae.

“Karma? Aku tidak sabar menunggunya.” ujar Kyuhyun kembali dengan senyum iblisnya.

.

[ 10 Tahun Kemudian ]

.

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya saat sinar matahari berusaha masuk ke dalam matanya. Dibukanya matanya dan pertama kali yang ia lihat adalah langit-langit ruangan dengan lampu yang mewah nan indah. Kyuhyun mengerutkan dahi mencoba mengingat-ingat apa yang ia lakukan semalam. Dan pelukan dari sebuah lengan akhirnya mengingatkannya.

Kyuhyun melirik kearah samping dan menemukan seorang wanita yang sama sekali tidak berbusana bergelung di pelukannya. Kyuhyun berdecih menatap sosok itu. Tanpa menunggu apapun langsung saja ia melepaskan tangan wanita itu yang memeluknya. Kyuhyun bangkit dari tidurnya dan memasang kembali baju tidurnya.

“Honey.. Kau sudah bangun?” Kyuhyun memutar bola matanya mendengar suara memuakkan tersebut. Wanita seperti inilah yang sangat bisa disebut Sampah. “Kau mau pergi sendiri atau kuusir sekarang juga?” Suara Kyuhyun terdengar. Membuat wanita itu diam tak berkutik. Kyuhyun menoleh menatap wanita itu.

“Sampah sepertimu itu hanya baik apabila dinikmati dan dilihat sekali saja. Jadi.. Pergi sekarang juga. Aku sama sekali tidak menyukai melihat orang asing di ranjangku saat terbangun dari tidur.” Ucap Kyuhyun tenang namun tajam. Nada bicara dan ekspresi wajahnya cukup mampu membuat seseorang merasa terintimidasi.

“Honey..” Wanita itu terus-terusan memanggilnya dengan sebutan ‘Honey’ yang makin membuat Kyuhyun geram.

“Sepertinya selain sampah kau juga bodoh.. Baiklah.. Aku ingin mandi setelah ini. Jadi sebelum aku selesai kuharap kau sudah pergi dari sini. Kalau belum.. Kau tahu sendiri aku orang seperti apa.”

Kyuhyun langsung masuk ke dalam kamar mandinya. Wanita itu sedang melawannya hah? Sudah berulang kali ia mengatakan bahwa dia tidak menyukai melihat ada orang asing ketika bangun dari tidur. Kenapa orang-orang itu bodoh sekali?

Setelah selesai dengan rutinitas mandinya. Kyuhyun keluar dan bagus sekali sudah tidak melihat wanita sial itu berada disana. Sepertinya dia cukup tahu diri.

Kyuhyun berjalan ke arah ruangan dimana ia menyimpan baju-baju kerjanya. Hari ini ia perlu pergi ke suatu tempat. Perusahaannya baru saja menunjukkan kepeduliannya untuk dunia kesosialan. Jadi dia sebagai Direktur perlu menampakkan diri dalam acara tersebut.

“Karma.. Karma yang cukup bisa membuatmu merasa bersalah seumur hidupmu. Ingat itu baik-baik.”

Kyuhyun mematut dirinya di depan cermin. Sudah 10 tahun berlalu dan dia masih memikirkan karma yang diucapkan Donghae padanya dulu. Namun sampai sekarang dia sama sekali belum merasa sedang mendapatkan karma.

“Karma? Karma apanya?” Cemooh Kyuhyun entah pada siapa.

.

.

Kyuhyun turun dari mobil mewahnya di depan sebuah gedung sederhana yang nampak ramai. Saat kakinya melangkah seseorang pria paruh baya segera menghampirinya. “Selamat Datang sajangnim.” Kyuhyun hanya mengangguk tak peduli dan masih dengan wajah angkuhnya. Matanya menyelidiki tiap sudut keadaan tempat tersebut. “Apa yang harus aku lakukan di tempat ini?” Tanya Kyuhyun. Kyuhyun menatap tempat itu dengan teliti dan serius. Jadi ini Panti Asuhan yang sedang diberi bantuan sosial dari perusahaannya?

Jadi akan banyak sampah-sampah yang harus ia lihat hari ini, begitu kah? “Sajangnim hanya perlu bertemu sapa dengan para anak-anak panti dan memberikan sambutan sedikit pada mereka. Lalu sajangnim harus mengobrol sebentar dengan salah satu perwakilan dari Panti asuhan ini hanya untuk sekedar normalitas belaka. Dan Sajangnim bisa pergi setelah itu.. Namun kalau Sajangnim ingin berlama-lama juga tidak apa-apa.”

Kyuhyun tersenyum mencela. Berlama-lama melihat sampah? Tidak, terima kasih.

“Sekarang sudah bisa dimulai?” Tanya Kyuhyun. “Iya sajangnim. Mari saya antar masuk.”

.

.

“Akhir kata saya ucapkan terima kasih. Sebagai pemimpin perusahaan saya berharap bantuan ini bisa banyak membantu untuk keperluan Panti untuk kedepannya. ” Dan akhir dari pidato tersebut disambut oleh tepukan riuh dari penghuni panti dan semua orang disana. Ketika Kyuhyun baru saja turun dari podium. Sesosok anak kecil menghampirinya dan membawa sebuah karangan bunga padanya. Kyuhyun berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil tersebut lalu menerima karangan bunga itu. Dan tak lupa Kyuhyun memberikan elusan lembut di kepala anak kecil itu.

Setelah berjalan cukup jauh. Kyuhyun kembali berbisik pada asisten yang berada di sampingnya. “Sekarang apa lagi?” Tanyanya. “Seorang perwakilan dari panti ingin mengobrol dan mengucapkan rasa terima kasih secara langsung kepada anda.”

Kyuhyun mengangguk dan berjalan mengikuti asistennya menuju. “Saya akan berada diluar Sajangnim. Perwakilan panti sudah ada di dalam.” Kyuhyun mengangguk singkat. Jadi dia perlu memasang wajah ramah tinggal sekali ini saja kan di acara ini? Baiklah. Kyuhyun masuk ke dalam ruangan itu dan bisa melihat seorang laki-laki sudah berada disana. Sosok itu langsung bangkit dari duduknya saat mendengar ia membuka pintu. “Selamat datang, Sajangnim.” Sapa sosok itu dengan ramah.

Kyuhyun memasang senyumnya dan berjalan menghampiri orang tersebut. Untuk sejenak Kyuhyun melihat ada yang janggal pada orang di depannya itu. Tapi akhirnya dia memilih tak ingin terlalu memikirkannya. Kyuhyun berjalan mendekati orang itu dan tak lupa Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Senang bertemu dengan anda.” Balas Kyuhyun masih menjulurkan tangannya. Namun dahi Kyuhyun berkerut saat tak juga mendapati uluran tangannya disambut. Apa-apaan ini? “Apa saya tidak begitu berhak berjabat tangan dengan anda?” Ucap Kyuhyun.

Sosok tersebut nampak memasang wajah bingung. “Maaf? Maksud anda?” tanyanya tak mengerti. “Saya sedang menjulurkan tangan kearah anda untuk berjabat tangan saat ini, tapi sepertinya anda tidak berminat.” Lanjut Kyuhyun.

“Maaf. Saya tidak tahu kalau tuan sedang menjulurkan tangan pada saya. Maaf sekali lagi.” Kali ini dahi Kyuhyun makin mengerut. Tidak tahu? Apa orang ini sedang bercanda? “Tidak tahu? Maksud anda?”

“Saya tidak bisa melihat, Tuan.” Kyuhyun mengamati orang di depannya dengan terkejut. Buta maksudnya? Hell.. Bagaimana mungkin mereka menyodorkan seseorang yang bahkan tidak bisa melihat kehadapannya untuk beramah tamah? Jadi apa maksud dari senyumannya yang ia berikan untuk orang ini tadi? Sia-sia saja.

“Ahh.. begitu ternyata. Saya minta maaf. Saya tidak tahu.” Ucap Kyuhyun dengan nada penuh rasa bersalah namun ekspresi wajahnya tidak sama sekali terlihat seperti itu. “Baiklah.. silahkan duduk.” Persilah Kyuhyun. Keduanya saat ini sudah duduk nyaman di sebuah kursi disana. Kyuhyun menatap sosok yang berada di hadapannya itu dengan wajah malas-malasan.

“Sebelumnya terima kasih atas bantuan yang perusahaan Tuan berikan pada panti ini. Dan terima kasih juga atas waktu yang Tuan luangkan untuk datang bertemu saya disini. Sungguh kehormatan yang begitu besar untuk panti ini dan saya.” Kyuhyun tak bergeming mendengar ucapan tersebut. “Tak perlu sungkan. Sudah semestinya manusia hidup saling berbagi.” Ujar Kyuhyun. Orang di depannya itu tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun. Dan untuk beberapa saat Kyuhyun berpikir bahwa orang itu.. manis.

“Dan.. bagaimana dengan karangan bunga yang anda terima? Anda sudah menerimanya kan? Apa anda menyukainya?” Kyuhyun melirik kearah karangan bunga yang masih ia pegang. Karangan bunga ini maksudnya? “Tentu saja. Ini sangat cantik. Terima kasih.” Ujar Kyuhyun bersamaan dengan dilemparnya bunga itu ke atas lantai. Bahkan Kyuhyun mampu membeli bunga yang lebih mahal dan indah daripada itu. Bagi Kyuhyun.. Segala hal hanya perlu dibeli. Dan semuanya hanya butuh uang. Keindahan, kenyaman, dan kebahagiaan tergantung uang.

Pemuda manis tapi buta itu terus berbicara dengan sesekali Kyuhyun balas dengan kata-kata singkat. Kyuhyun dengan santainya malah memainkan ponselnya tampak tak peduli dengan apa yang tengah dibicarakan. “Kyuhyun-ssi?” Kyuhyun melirik sejenak kearah orang itu saat untuk pertama kalinya ia menyebut namanya. “Ya?” balas Kyuhyun. “Entah harus berapa kali saya harus mengucapkan terima kasih, tapi anda harus tahu kalau kami begitu berterima kasih pada anda. Anda orang yang sangat baik.”

Kyuhyun menatap sosok itu masih dengan ekspresi malas. Kenapa orang ini terlalu bertele-tele?

“Karangan bunga yang anda terima adalah salah satu bentuk rasa terima kasih anak-anak untuk anda. Mereka membuatnya sendiri. Dan mereka selalu berkata pada saya. Kalau mereka harus membuat karangan bunga yang begitu indah untuk anda. Karena bagi mereka, anda adalah sosok malaikat untuk mereka. Karena anda mereka bisa bersekolah.” Sosok itu berdiri dan menunduk kemudian membungkukkan badan kearah Kyuhyun merasa begitu berterima kasih.

Kyuhyun memandang karangan bunga yang sudah tergeletak itu di atas lantai. Entah kenapa untuk pertama kalinya Kyuhyun merasa sedikit bersalah saat ini.

.

.

.

3 hari telah berlalu. Kyuhyun turun dari mobil mewahnya dan berjalan dengan langkah yang begitu percaya diri. Uang dan segala sesuatu telah ia miliki, jadi wajar saja ia begitu percaya diri. Saat ia berjalan melewati koridor gedung perusahaan miliknya. Karyawan yang bekerja disana tiba-tiba memanggil Kyuhyun, membuat pemuda itu berhenti dan menoleh.

“Maaf sebelumnya Sajangnim. Saya hanya ingin mengabarkan ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Apa Sajangnim mau bertemu dengan orang itu atau tidak?”

Kyuhyun mengerutkan dahinya untuk sesaat. Siapa? “Apa dia memberi tahu ada urusan apa dia denganku?” Tanya Kyuhyun. “Orang itu mengatakan dia adalah perwakilan Panti Asuhan yang diberi subsidi oleh Perusahaan. Orang itu masih berada disini. Dia sedang menunggu disana.”

Kyuhyun mengikuti arah tangan karyawannya dan berhasil mendapati seseorang yang 3 hari yang lalu ia temui. Ternyata orang buta itu. “Apa Sajangnim ingin menemuinya?” Suara karyawan itu kembali terdengar.

“Tidak. Bilang padanya kalau aku sibuk.” Jawab Kyuhyun. Sudah pernah ia katakan sebelumnya. Ia sangat tidak ingin bertemu dengan orang asing yang sama berkali-kali.

Kyuhyun melanjutkan langkahnya. Ketika ia melewati sosok yang tengah duduk menunggu tersebut. Kyuhyun hanya menatapnya dengan sekilas.

.

.

Sungmin menolehkan wajahnya saat sebuah suara nampak tertuju kearahnya. Dengan pelan dan penuh kehati-hatian ia berdiri dari duduknya dengan bantuan tongkat yang selalu bersamanya.

“Tuan, Cho Kyuhyun Sajangnim sepertinya tidak bisa bertemu dengan anda untuk hari ini. Beliau begitu sibuk.” Sebuah suara sukses membuatnya mendesah kecewa. Sungmin memainkan jari jempolnya pada permukaan sebuah buku yang tengah ia pegang. Hari ini ia datang ke perusahaan dimana Direktur baik hati itu bekerja. Ia mempunyai urusan yang entah bisa dikatakan penting atau tidak. “Apa kubilang.. Direktur sepertinya pasti akan sulit ditemui. Kau saja yang keras kepala.”

Sebuah suara membuat Sungmin makin kecewa. Dia datang bersama dengan temannya. “Dia begitu baik kemarin. Mungkin dia mau mempertimbangkan untuk menemuiku saat dia tahu bahwa aku kembali ingin bertemu dengannya, Kibum-ah.”

Sosok yang dipanggil Kibum itu hanya memutar bola matanya. Mau baik atau tidak, yang namanya orang kaya pasti sibuk. Apalagi dia adalah seorang Direktur. “Jadi.. Kita mau apa sekarang? Pulang? Kau tahu tidak tadi aku terus-terusan me-reject telepon dari Donghae? Aku bisa taruhan kalau dia sekarang sedang ingin mencekikku karena membawa kakak tercintanya pergi entah kemana.” Dumel pria bernama Kibum itu.

“Apa kau keberatan kalau kita tetap menunggu disini?” Mendengar ucapan Sungmin. Kibum menganga tak percaya. “Kau masih mau menunggu orang itu? Kau ini keras kepala sekali.”

“Ini untuk anak-anak, Bum-ah. Aku tidak ingin mereka kecewa.”

Kibum menatap Sungmin cukup lama. Dia nampak memikirkan sesuatu. “Araso.. Hanya 2 jam. Lebih dari itu, kita pulang. Setuju?” Sungmin mengangguk. “Setuju.”

.

.

“Tuan, maafkan saya.”

Kyuhyun menatap sosok paruh baya yang sedang berlutut di lantai ruangannya. Sudah lebih satu jam sosok itu bertahan disana dan terus-terusan mengucapkan maaf di depannya. “Keputusanku tidak berubah. Kau dipecat. Memangnya siapa suruh kau tidak masuk dua hari kemarin tanpa kabar?”

Wajah pria paruh baya itu nampak begitu pucat. “Anak saya sakit, Tuan. Saya harus menungguinya di rumah sakit. Istri saya sudah meninggal. Saya.. Saya…”

Kyuhyun kembali memutar bola matanya. “Itu urusanmu. Aku tidak tahu menahu. Jadi, cepatlah berdiri dan keluar dari ruangan ini. Kemasi barang-barang lalu hengkang dari perusahaan.”

Kyuhyun menekan salah satu tombol telepon yang berada di atas meja dan tidak lama dari itu 3 orang tim keamanan muncul dan dengan satu anggukan dari Kyuhyun ketiga orang itu langsung menarik paksa lelaki paruh baya itu untuk keluar.

“Tuan. Tuan, saya mohon dengan kerendahan hati saya. Mohon jangan pecat saya Tuan. Putri saya masih kecil, dia butuh sekolah. Tuan!!” Sosok paruh baya itu terus memohon dan menyembah Kyuhyun saat ketiga tim keamanan terus menarik tubuhnya paksa untuk keluar.

Kyuhyun hanya tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang tengah ia duduki saat sosok itu sudah pergi dan menghilang dari pandangannya. Dia sama sekali tidak perduli dengan kehidupan orang lain. Yang ia perdulikan hanyalah kontribusi dari orang lain untuk kehidupannya. Jadi jangan berharap bahwa Kyuhyun akan iba mendengar kisah hidup orang-orang yang menyedihkan. Dia tidak akan iba, tidak sama sekali.

.

.

Kyuhyun melangkah keluar dari lift dengan tenang. Matanya terhenti saat mendapati sosok yang beberapa jam lalu ia lihat masih ada disana. Apa-apaan ini? Orang itu masih menunggunya? Mengharukan sekali, tawa Kyuhyun dalam hati.

Kyuhyun melangkah mendekati orang tersebut. Saat ini orang itu terlihat sendirian, seingat Kyuhyun tadi ia melihat seorang pria berada bersamanya. Kyuhyun melipat kedua tangannya di atas dada lalu menatap sosok itu dengan serius. Dia masih berpikir, memangnya apa urusan orang yang tidak bisa melihat ini untuk menemuinya dengan begitu gigih terus menunggu seperti sekarang? “Menunggu seseorang?” Tanya Kyuhyun. Sungmin nampak merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih tegang saat ada seseorang yang berbicara padanya. “Ne. Apa anda tim keamanan?” Sungmin bertanya dengan raut cemas. Kyuhyun tersenyum sinis mendengar ucapan orang di depannya.

Sedangkan itu, Sungmin masih belum mendengar jawaban atas pertanyaan yang ia layangkan. Entah kenapa ia memiliki feeling bahwa orang di depannya itu adalah tim keamanan yang bermaksud untuk menyuruhnya pergi. “Hanya sendiri?” Kyuhyun tak menjawab pertanyaan Sungmin melainkan kembali menanyakan sesuatu.

“Tidak, saya bersama teman. Teman saya sedang keluar sebentar untuk membeli sesuatu.” ucap Sungmin. “Apa anda tim keamanan?” Sungmin kembali bertanya. Membuat Kyuhyun menahan tawa. Orang ini takut diusir ya?

“Bukan.”

“Bukan?” Ekspresi Sungmin sedikit lebih santai. “Ya, bukan.” Jawab Kyuhyun lagi. Kyuhyun merubah posisi kedua tangannya yang terlipat menjadi memasukkannya ke dalam saku celananya. “Aku Cho Kyuhyun.”

Sontak saja ucapan itu membuat Sungmin reflek berdiri dan malah menjatuhkan tongkatnya. Kyuhyun hanya terkekeh melihat ekspresi Sungmin yang nampak begitu kaget. Matanya masih tertuju kearah Sungmin yang sedang berjongkok dan mencoba mencari-cari tongkatnya yang terjatuh. Kyuhyun memandangi Sungmin yang masih juga belum berhasil mendapatkan tongkatnya dengan ekspresi datar.

Sungmin masih terus-terusan meraba-raba lantai untuk mencari tongkatnya. Pasti saat ini Tuan Kyuhyun sedang menatapnya aneh. “Ini..” Sebuah suara nampak begitu dekat dengan wajahnya dibarengi dengan tangannya yang menyentuh sebuah benda platik yang bisa ia pastikan adalah tongkatnya. “Te.. Terima kasih, Tuan.” Sungmin menerima tongkat itu dari Kyuhyun dan beranjak berdiri. Kyuhyun tak menjawab ucapan terima kasih tersebut dan kembali bersuara. “Aku dengar dari karyawanku kau ingin menemuiku? Ada urusan apa?”

Mendengar pertanyaan itu, Sungmin buru-buru menyodorkan sebuah buku yang sedari tadi bersamanya. Kyuhyun menaikkan alisnya menatap benda itu. “Saya kesini untuk menyerahkan ini pada anda. Anak-anak panti sangat ingin memberikan ini pada anda. Ini adalah puisi dan lukisan yang mereka buat sendiri.”

Kyuhyun hampir tertawa mendengar ucapan orang di hadapannya ini. Hanya karena benda murahan seperti ini ia rela menunggunya untuk bisa bertemu? Terkadang Kyuhyun benar-benar bingung dengan isi kepala orang-orang miskin. “Terima kasih.” Kyuhyun mengambil benda itu dari tangan Sungmin. Namun saat itu juga Kyuhyun menangkap sosok lain disana. Kyuhyun benar-benar tidak mau bertemu dengan orang itu. Dengan cepat dan spontan Kyuhyun menarik tangan Sungmin untuk ikut dengannya agar bersembunyi.

“Ada apa? Apa yang sedang anda lakukan?” Sungmin spontan berteriak mendapati dirinya sedang ditarik. Namun belum sempat ia bertanya lebih banyak. Sebuah telapak tangan sudah menutup mulutnya. “Diam sebentar.” Suara Kyuhyun bisa dirasakan dengan jelas tepat di depan wajahnya. Sungmin akhirnya memilih untuk diam dan pasrah mendapati telapak tangannya dicengkram oleh Kyuhyun.

Kyuhyun makin merapatkan tubuhnya pada Sungmin saat seseorang yang ingin ia hindari tersebut baru saja melewati tempat mereka bersembunyi. Sekitar 3 menitan ia menunggu. Akhirnya Kyuhyun tersadar kalau dia sedang membekap mulut seseorang. Dengan segera ia melepaskan telapak tangannya dari sosok itu.

“Ada apa?” Setelah mulutnya terbebas, Sungmin dengan cepat kembali bertanya. Kyuhyun yang sedang menundukkan kepala sembari menghela nafas lega pun kembali mengangkat kepalanya.

Saat ia mengangkat kepalanya, Kyuhyun baru tersadar bahwa jarak wajahnya dengan orang ini sangatlah dekat. Bahkan hembusan nafasnya saja Kyuhyun bisa merasakannya. “Kyuhyun-ssi?” Kyuhyun masih belum bergeming. Matanya masih belum ingin beranjak dari wajah yang berada di hadapannya.

Kyuhyun menatap bola mata yang tepat berada di depannya. Bola mata yang pandangannya nampak begitu lugu dan tak berdosa. “Apa.. Kau benar-benar tidak bisa melihat?” Sungmin nampak bingung dengan topik yang baru saja Kyuhyun lontarkan. “Ne, saya tidak bisa melihat. Waeyo?” tanya Sungmin balik.

Kyuhyun masih terdiam. Untuk pertama kalinya Kyuhyun merasa tidak ingin seseorang melihat ekspresi wajahnya saat ini. Bertahun-tahun ia sudah hidup di dunia dan dia dengan percaya dirinya memasang wajah angkuhnya di depan orang banyak. Dia tidak pernah menampakkan ekspresi kagum pada sesuatu melainkan orang-orang yang melihatnyalah yang menampakkan rasa kagum.

Tapi saat ini berbeda.. Entah kenapa dan ada apa. Kyuhyun merasa ia sedang mengagumi sesuatu. Dan itu untuk pertama kalinya.

.

.

.

Cont-

Fanfic KyuMin baru lagi. Berhubung mungkin OBJECT bentar lagi bakal sampai pada kata ‘End’ jadi saya nyoba bikin Fanfic penggantinya. Kayaknya FF ini bakal masih berputar pada genre Romance dan Hurt? Yah.. emang kayaknya bakal begitu. Tapi tidak menutupi kemungkinan kalau misalnya ff ini bakal berubah haluan(?) jadi genre Komedi. Tapi itu kayaknya bakal ga nyambung banget ama Konflik yang udh diperlihatkan di Chapter 1 ini –,-“

Cerita dari ff ini entah kenapa tiba-tiba muncul waktu nonton Pretty Little Liars. Yang tau Serial TV ala amerika itu pasti tau apa sangkut pautnya ff ini dengan PLT.

Terima kasih yang udh baca.,. Ditunggu komen-nya ya teman-teman?

About kpopfanficcouple

Please leave comment after you read thx ^^

15 responses to “| Window Pane | KyuMin | Fanfiction | Chapter 1”

  1. ardeliafarah says :

    pengganti OBJECT…….:)
    aq udh bca sih d ffn, hehe
    trtarik mke kta bnget, nunggu ch 2 nya mke kta bnget, hwating bwt chizawa🙂

  2. Dheena13 says :

    Daebak…

    aq suka dengan karakter Kyuhyun di fanfic ini…
    Ga sabar buat baca kelanjutannya…

    Hwaiting…

  3. Nadra kyumin says :

    Kisah s buta dan pangeran angkuh eoh??
    Wow, so amazing n interesting….
    Lnjut yach chingu! Fighting!🙂

  4. Niken ayu says :

    ff baru dgn watak tokoh yg lebih menatang,
    kyuhyun sombong, jahat, tanpa blas kasihan
    wow benar benar . . .
    Donghae dan sungmin sodara kandung?
    Bekisaran berapa eon umur mereka?
    Agak sedkit bingung

    ditunggu next chapternya

  5. afny kyumin says :

    Songong bangeddddddd oppa kyunnie😦

    Kasiaaannn minnieee.. pasti yg membuat minnie buta adalah oppa kyunnie…

    Huwaaaaaaaaa…. love first sign ♥♥♥♥
    Asyekkkkkkkkk….
    Lanjut saeng fighting..

  6. tika137 says :

    Oh jd karmanya nanti ini mgknkah Kyuhyun yg tdk mendapat izin dr Donghae u suka sm Sungmin? Wah moga ia, biar dia tau kalau tdk slmanya sesuat yg dia inginkn bs d dpt dgn uang.

  7. freakypicky says :

    Aku manggil eon ajaya hehe😀 eon ini keren, td saya br izin mau baca ff dan ff ini pilihan pertama saya hahaha keren eon tp bingung jg ko ming gabisa liat.-. Izin ke chapter selanjutnyaaa, oh ya eon konfirm akun fb aku yaa “Shely Mutiara Maghfira” kamsahamnidaaa

  8. Vivi says :

    Eonni, vivi imnida! Reader baru dsini. Izin baca ya eon…!

    Kyu oppa sombong bnget sih! Angkuh, sikapnya nyebelin…!!

  9. kyuminniewine says :

    Kyaaaa ff baruu😀
    Ak udh baca d ffn juga, tp aku komen disini aja yah, susah mulu soalnya huhuhhuu
    Aaaaa sedih nih rasanya nih ff😥
    My mingggg😥
    Aaaaa sumpah cho kyu km aaaaak jahat and arogan bgt sihhhh, awas yaaaah “-“

  10. NiCho2097 says :

    rasanya pingin banget lempar kyu ke jurang😦
    jahat banget kyu-nya…
    hiks..
    ming oppa sama aku aja ayo..
    #tarikMinOppa

  11. niefi3ani says :

    huuweee T.T hiks lee brother menderita bngt sich? apa lg umin hiks n penyebab’y tu si cho😦 , YAK CHO kasihan umin tw #aish emosi jiwa gara si evil, chingu izin baca ya ff’y #baru baca chap 1 ja dh bikin nyesek chizawa KEREEEEEEEEEEEENNNNNNNNN ^_^

  12. citra_ratna 868 says :

    Ahhh…sungmin buta karna kyuhyun..kyuhyun siap” dengan karmamu..

  13. Dwi Sugiarti says :

    wah aku suka ceritanya!
    Karakter meraka berdua pas banget… Wwkwkkw…

  14. sara kyumin says :

    Halo aku reader baru, ijin baca disini ya😉

  15. regita says :

    kereeeennn (y) eonnie ff nya =)
    semangat buat chap2 slanjut nya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: