– Windowpane – Chapter 4 – KyuMin – Boys Love –


Kyuhyun berdiri diam di suatu ruangan yang memiliki jendela yang terbilang besar. Matanya menatap dari kejauhan entah apapun itu. Dari ruangan yang berada di lantai 13 ini dirinya bisa dengan begitu jelas melihat seisi taman hiburan. Dari mata telanjang pun seseorang akan merasa takjub melihat maha karya kekayaannya. Kyuhyun sudah tidak memiliki keinginan apapun lagi. Dunianya terasa datar dan begitu lurus. Disaat seseorang dengan begitu gigih meraih cita-citanya dengan segala usaha. Dirinya hanya perlu duduk diam lalu berkata apa yang sedang ingin ia pinta.

 

Terkadang ia bertanya pada dirinya sendiri. Setiap manusia yang hidup pasti memiliki alasan kenapa dia harus bertahan hidup. Setiap manusia yang hidup pasti memilki sesuatu yang ingin ia raih selama ia hidup. Semuanya perlu alasan.. Namun sampai saat ini dirinya masih belum menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaannya sendiri. Kenapa dia harus hidup? Kenapa dirinya harus bertahan hidup? Untuk orang yang ia sayangi? Bahkan Kyuhyun tidak tahu siapa orang yang ia sayangi. Orangtuanya? Dia nyaris tidak ingat kapan terakhir mereka saling bertatap muka. Atau mungkin dirinya hidup hanya untuk mengolah harta-harta yang entah sampai kapan baru akan habis ini?

 

Kyuhyun sadar betul kalau kehidupannya tidak semenakjubkan orang-orang diluar sana. Bahkan ketika harus menceritakan suatu pengalaman yang berarti pun dirinya bingung. Dunianya berbeda. Hidupnya berbeda. Hanya satu yang bisa ia banggakan, hartanya.

 

“Sajangnim?”

 

Kyuhyun sedikit bergeming dari posisinya ketika seorang pegawainya muncul. “Ada apa?” tanya Kyuhyun. “Ini tentang pemuda yang bersama Sajangnim tadi.”

 

Kyuhyun masih diam dan untuk beberapa saat ia akhirnya membalikkan badan. “Ada apa? Apa dia sudah kau antar?” Kyuhyun melangkah menuju sofa berwarna coklat disana kemudian mendudukinya. “Ya. Ada seorang teman yang menjemputnya. Kami bisa memastikan kalau orang yang datang itu benar-benar temannya.” Pegawai itu membuka catatan kecil yang selalu ia bawa kemana-mana tersebut dan nampak sedang mencari sesuatu. “Nama orang itu..”

 

“Cukup. Kau boleh keluar.” potong Kyuhyun cepat. Mendengar perintah yang tidak bisa dibantah itu keluar dari Kyuhyun. Dengan patuh pegawai itu menunduk hormat lalu pamit keluar.

 

Setelah hanya tinggal dirinya yang berada di ruangan besar tersebut. Kyuhyun pun menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Dirinya tidak perlu tahu bahkan tidak ingin tahu siapa nama orang yang menjemput Sungmin karena baginya itu bukan urusannya. Tidak ada alasan lagi untuk bertemu dengan orang itu dan sebagainya. Kyuhyun merasa ini hanya salah satu bentuk rasa penasarannya pada Sungmin. Dan dia pikir sudah lebih dari cukup ia bertemu dengan orang itu dan sebaiknya tidak perlu bertemu lagi.

 

“Hanya karena saling jatuh cinta, bukan berarti bisa saling memiliki, kan?”

 

Kalimat itu kembali muncul di kepalanya. Saling memiliki? Saling jatuh cinta? Kyuhyun seharusnya tertawa terbahak-bahak saat pemuda itu mengucapkannya. Seharusnya ia menertawakan kalimat konyol tersebut saat itu juga. Tapi kenapa hingga saat ini pun ia merasa aneh. Kenapa saat kalimat itu keluar.. dirinya hanya bisa terdiam dan duduk terpaku?

 

Kyuhyun mengeratkan kepalan tangannya. Bagaimana bisa orang asing seperti itu mampu mempengaruhi suasana hatinya hingga sebegini dalamnya?

 

.

 

.

 

WINDOWPANE

 

KyuMin © God

 

Story © Chizawa Lynch

 

Rated : T

 

~KyuMin~

 

Warning : Mungkin OOC, Typo, Gaje. dll.

 

Genre : Drama, Hurt & Romance.

 

Length : Chaptered.

 

.

 

Boys Love

 

.

 

Point of View : Author

 

.

 

0o0o0

 

Chapter 4

 

.

 

“Kau masih marah ya?” Kibum melirik sosok Sungmin yang duduk tepat di sampingnya. Sudah 10 menit ia dan Sungmin duduk terdiam di bangku panjang ini. Ketika ia datang untuk menjemput Sungmin di sebuah taman hiburan dan bahkan perjalanan pulang dengan menaiki mobil pun Sungmin tidak begitu banyak bicara. “Sungmin-ah.. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu.” Kibum menatap Sungmin dan merasa bersalah.. “Aku..”

 

“Jangan seperti ini lagi.” Potong Sungmin cepat. Kibum mengerjapkan matanya dengan relaks kali ini. “Kau tidak marah?” tanya Kibum. “Untuk apa aku marah? Pekerjaanmu kan mulia, seorang Dokter.” Sungmin berujar dengan cepat namun untuk dua kata paling akhir. Kibum bisa mendengar nada suara yang sedikit bergetar.

 

Inilah sebabnya ia tidak memberitahu Sungmin apa pekerjaannya. Sungmin akan kembali mengingat cita-citanya yang telah hancur itu dengan ekspresi yang bisa membuat Kibum merasa sedih. “Kau benar-benar tidak marah?” Kibum kembali mengulang. “Tidak. Sudah kukatakan memangnya untuk apa aku harus marah?” Sungmin kembali bersuara. Pemuda manis itu sukses membuat kedua sudut bibir Kibum naik dan memperlihatkan senyum yang begitu manis. Kibum menarik nafas lega, sejak Sungmin mengetahui pekerjaan dan latar belakangnya entah kenapa ia merasa cemas. Ia begitu cemas mengenai interaksi mereka suatu saat nanti. Dan hari ini akhirnya dirinya bisa bernafas lega karena Sungmin baru saja berkata bahwa ia tidak marah.

 

“Hahh~ aku lelah sekali.” Sungmin terlonjak kaget merasakan sesuatu yang baru saja berada di bahunya. Untuk beberapa saat ia begitu terkejut, dan setelah menyadari bahwa ini hanyalah Kibum yang sedang menyandarkan kepala pada bahunya. Sungmin pun kembali tenang. “Kau benar-benar ahli dalam membuat suasana hati seseorang kalang kabut.” Kibum kembali bersuara. Mendengar ucapan Kibum membuat Sungmin mengernyit. “Apa katamu?” tanya Sungmin tidak terima.

 

“Aku pikir kau tidak mau bertemu denganku lagi.. Aku takut sekali.” Ujar Kibum. Pemuda yang memiliki senyum yang begitu menawan itupun dengan perlahan menutup matanya. “Kibum-ah.. Aku..”

 

“Jangan bicara lagi, aku mau tidur. Aku lelah sekali.” Kibum dengan cepat memotong ucapan Sungmin. “Lelah? Seberapa lelah?” Tanya Sungmin. “Hari ini aku baru saja menyelesaikan 3 operasi besar. Aku butuh tidur.”

 

“Kalau lelah kau seharusnya beristirahat. Kenapa malah berada disini denganku?” Jawab Sungmin sebal. Kibum terdengar berdecak kesal saat itu. “Hanya untuk mengingatkan, kau yang menelponku dan minta jemput, Min.” Sungmin terdiam mendengar perkataan Kibum. Benar juga. “Tapi kau bisa menolaknya kan? Bagaimanapun kau harus istirahat kalau benar-benar lelah.”

 

Kibum membuka matanya dan menegakkan kepalanya yang berada di bahu Sungmin dan duduk dengan benar kali ini. “Seharusnya begitu.. Tapi aku merasa gelisah dan cemas memikirkan tentang kau yang marah. Jadi kurasa aku perlu bertemu denganmu. Dan juga.. Aku mencemaskanmu. Kenapa kau bisa ditinggal sendirian di taman hiburan? Memangnya kau punya urusan apa sehingga bisa memisahkan diri dari rombongan?” Kibum memandang Sungmin tajam. Dia merasa Sungmin baru saja bertemu dengan seseorang dalam waktu yang cukup lama. Dan juga.. Saat ia datang tadi.. Kenapa begitu banyak orang-orang yang berdiri menjaganya? “Aku rasa aku terlalu menikmati suasana taman saat itu jadinya malah lupa waktu.”

 

Kibum mengerutkan dahi. Dia masih belum begitu puas dengan jawaban Sungmin. “Tapi..”

 

“Dan juga Kibum-ah.. Tidakkah kau terlalu berlebihan?” Kalimat yang baru saja akan keluar itupun sontak harus kembali ditelan oleh Kibum saat Sungmin melanjutkan ucapannya. “Aku senang kau mencemaskanku. Tapi setidaknya kau tidak perlu terus menerus menjagaku. Kau juga harus memikirkan kehidupanmu. Aku tidak mau karena terlalu terpaku padaku kau malah mengesampingkan urusanmu sendiri.” Kibum melipat kedua tangannya di depan dada dan memandangi Sungmin yang baru saja berbicara panjang lebar. “Kita hanya teman.. Dan tidak seharusnya kau harus menjagaku 24 jam. Tidak ada alasan untuk kau cemas seperti ini padaku.”

 

“Apa mencemaskan seorang teman harus memiliki alasan?” Tanya Kibum. Pemuda itu memiringkan posisi duduknya dan menumpukan sikunya pada sandaran kursi, menatap Sungmin yang berada tidak jauh di hadapannya. “Lalu, haruskah aku mengencanimu?”

 

Ekspresi Sungmin seketika berubah saat mendengar ucapan Kibum. “Mwo?” Kibum yang masih menatap Sungmin dengan ekspresi datar itupun langsung menyela. Dia benar-benar geli melihat ekspresi wajah Sungmin. “Bercanda.. Kau pikir aku mau dengan orang cerewet sepertimu? Kau juga jelek.”

 

Sungmin membuka mulutnya tak habis pikir. “Ya! Kau mau mati hahh?” Sungmin langsung melayangkan tongkatnya dan menodongkannya pada posisi yang ia pikir dimana Kibum berada. Kibum yang masih tertawa geli pun untungnya dengan cepat menahan tongkat itu.

 

“Asal kau tahu saja.. Saat sekolah dulu.. Banyak sekali yang mengejarku. Bisa-bisanya kau mengataiku jelek?” Ujar Sungmin. Kibum masih saja tertawa dan makin membuat Sungmin kesal. “Kau masih tertawa? Ya Kim Kibum!”

 

Kibum dengan susah payah menghentikan tawanya lalu menggiring tongkat yang ditodongkan Sungmin padanya agar menjauh dari tubuhnya. “Aku bercanda.. Bagaimana bisa kau percaya saja pada ucapanku? Sekali lihat saja sudah bisa disimpulkan kalau kau itu tidak jelek. Tidak sama sekali.”

 

Kibum mengambil alih tongkat Sungmin lalu menggenggam tangan Sungmin kemudian kembali menyandarkan kepalanya di bahu Sungmin. “Aku perlu memegang tanganmu agar tidak memukul kepalaku.” Sungmin tidak bereaksi apapun saat Kibum kembali bersandar padanya. “Aku pinjam bahumu untuk 30 menit saja. Aku benar-benar lelah. Untuk kali ini aku serius.” dan Kibum pun benar-benar tertidur dengan bersandar pada Sungmin yang sedang tersenyum simpul.

 

.

 

.

 

Donghae menatap layar besar di hadapannya. Sebuah layar yang mempertontonkan presentasi mengenai project baru yang akan dilakukan oleh Perusahaan tempat dirinya bekerja. Semua mata dengan serius menatap paparan sang penyaji yang berdiri di ruang rapat itu. Sebagai seorang kepala divisi salah satu bagian di perusahaan ini. Maka Donghae juga harus ikut serta dalam project besar ini.

 

Layar itu terus berubah-ubah layaknya film dokumenter. Hingga suatu saat sebuah gambar perusahaan yang begitu terkenal beserta Direkturnya pun terpampang disana. “Saingan kita kali ini adalah Perusahaan C & K.”

 

C & K. Perusahaan itu terdengar tidak begitu asing di telinganya. Dan juga sosok yang ada di layar itu pun juga begitu Donghae kenal. Membuat Donghae tersenyum tipis. Cho Kyuhyun.. Nama itu begitu tak terlupakan.

 

[ Flashback ]

 

Donghae meraih ponselnya yang bergetar di atas meja. Ia melirik nama kontak yang ada di layar kemudian dengan cepat mengangkatnya. “Halo Kibum-ah? Ada apa?” Ujar Donghae cepat. Pemuda Lee itu masih nampak serius dengan dokumen-dokumen di atas mejanya. “Mwo?” Seketika semua pekerjaannya terpaksa dihentikan saat telinganya mendengar ucapan Kibum di telepon. “Kalau kau sibuk kenapa masih mau menemani Hyung? Kau benar-benar..”

 

Donghae memutar bolamatanya mendengar alasan Kibum disana. “Operasi? Sekarang Hyung dimana? Biar aku yang jemput..” Donghae segera menutup teleponnya lalu beranjak keluar. Ketika di perjalanan ia terus-terusan merenung dan memikirkan banyak hal. Untuk apa Hyung-nya bisa ada di perusahaan itu?

 

Donghae turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam gedung. Diedarkannya matanya pada seisi sudut ruangan untuk mencari kakaknya. Hingga akhirnya matanya terpaku saat menatap kakaknya dengan seorang pria yang begitu ia benci semasa hidupnya tengah berdiri saling berhadapan. Namun untuk sesaat seperti menyadari kehadirannya.. Kyuhyun menyeret Sungmin untuk bersembunyi. Donghae mengikuti kemana arah Kyuhyun menyeret kakaknya. Dari kejauhan ia mendapati bahwa itu benar-benar Kyuhyun dan kakaknya, Lee Sungmin. Untuk sesaat Donghae kehabisan kata-kata melihat apa yang baru saja terjadi. Dengan perlahan Donghae berjalan mendekati tempat persembunyian Kyuhyun dan kakaknya. Namun ketika ia berjalan ia hanya bisa melewatinya begitu saja. Donghae tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun yang juga disana ada Sungmin. Donghae merasa telapak tangannya mulai dingin. Ia menyentuh dinding dan bertumpu disana. Tangannya terlalu bergetar saat melihat sosok itu. Kyuhyun.. Dan Sungmin? Apa yang terjadi di antara kedua orang itu? Donghae kembali membalikkan tubuhnya untuk melihat Kyuhyun dan Sungmin lagi. Dan saat itu juga ia melihat pandangan yang begitu langka tengah diperlihatkan Kyuhyun.. Dan itu hanya karena menatap Sungmin, kakaknya.

 

[Flashback End]

 

Donghae kembali menatap layar besar di hadapannya itu. Mengingat bagaimana Kyuhyun menatap Sungmin saat itu. Entah kenapa ia merasa menemukan titik lemah bocah arogan itu untuk pertama kalinya. Dan.. Kenapa titik lemah itu harus berkaitan dengan Hyung-nya?

 

Saat ia mengantar Hyungnya ke sebuah pesta beberapa hari yang lalu juga ia sudah mengetahui siapa dalang di balik itu, tentu saja bocah brengsek tersebut. Ia merasa begitu berat mengantar Hyungnya kesana.. Ia takut kalau Kyuhyun akan berbuat hal yang bisa membuat Hyung-nya malu dan ternyata itu benar.

 

“Bagaimanapun caranya, perusahaan kita harus bisa memenangkan tender ini. Walaupun saingan kita adalah C & K.” Suara penyaji yang berada di depan sana kembali menyita perhatian Donghae. “Tuan Lee Donghae.. Apa anda sanggup memegang tugas besar ini?” Semua mata dewan direksi terarah padanya. Pemuda Lee itu diam sejenak hingga akhirnya Donghae berdiri dari kursinya dan tersenyum simpul. “Saya akan bekerja keras untuk project ini.. Semua usaha akan coba saya kerahkan. Mohon dukungannya.” Ucap Donghae diakhiri dengan bungkukkan sopan pada seisi peserta rapat. “Dan lagi pula.. Saya dan Direktur C & K saling mengenal.”

 

Sontak saja seisi ruangan itu terpengarah mendengar ucapan Donghae. “Mengenal? Maksud anda?” seorang dewan bertanya. Membuat Donghae tersenyum penuh arti. “Kami berasal dari SMA yang sama.”

 

.

 

.

 

Kyuhyun duduk tenang sembari memainkan ipad di dalam mobil mewahnya. Sesekali pandangannya melirik kondisi yang ada di luar mobil. Senyum licik terpatri dari salah satu ujung sudut bibirnya saat menatap pemandangan disana.

 

Saat ini dirinya beserta rombongan anak buahnya tengah berada di salah satu panti asuhan di daerah pinggiran Seoul. Panti asuhan ini berbeda dengan panti asuhan dimana dirinya bertemu dengan Lee Sungmin kemarin. Kyuhyun duduk nyaman dan tersenyum puas. Hari ini ia sudah memutuskan untuk menghancurkan tempat ini tanpa berbekas. Dengan melibatkan beberapa lembar uang ia sudah mendapatkan lisensi untuk mengambil alih tempat ini.

 

Pandangan Kyuhyun sedikit bergeser pada sosok wanita paruh baya yang baru muncul disana. Sinar mata pemuda Cho itu sedikit meredup kala melihat sosok itu. Namun sedetik kemudian sinar mata itu sudah kembali pada kedudukan semula. Kyuhyun memandang tajam sosok yang baru muncul itu dengan serius. Tahukah kalian apa yang sedang Kyuhyun lihat saat ini? Bisa-bisanya wanita itu meneteskan airmata hanya karena bangunan rendahan ini? Bisa-bisanya wanita itu memohon dengan berurai airmata di hadapan anak buahnya yang sedang melakukan penggeledahan saat ini?

 

Telapak tangan Kyuhyun mengepal dengan sendirinya. Dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikir wanita materialistis di depan sana? Setelah menjualnya pada laki-laki yang ia sebut ‘ayah’ dulu, wanita itu menangis hanya karena hal sepele seperti ini?

 

Kyuhyun sangat membenci wanita itu. Orang miskin hanya akan menyerahkan segalanya demi uang, tidak terkecuali anaknya sendiri. Bahkan ketika Kyuhyun mengalami kecelakaan dan kehabisan begitu banyak darah pun dulu, wanita itu tidak datang untuknya. Bahkan untuk meneteskan airmata pun mungkin dia tidak mau. Dan sekarang.. Hanya karena Kyuhyun akan menghancurkan Panti Asuhan ini.. Wanita itu malah menangis seperti orang rendahan disana? Dunia, hebat sekali.

 

.

 

Sungmin berjalan dengan tergesah-gesah. Bunyi ketukan antara tongkatnya dan jalan terdengar bersahut-sahutan. Saat ia menerima sebuah panggilan dari Bibi Kim.. Dengan cepat ia menuju tempat ini. Sungmin sangat terkejut ketika ia mendengar suara isak Bibi Kim ketika menelponnya tadi. Dan menurut kesimpulan yang ia kumpulkan sendiri. Rasanya ini berkaitan tentang hutang panti asuhan yang merupakan milik bibi Kim pada sebuah perusahaan.

 

Sungmin berhenti melangkah ketika telinganya mendengar suara bibi Kim yang nampak bergetar dan terdengar begitu memohon pada seseorang. “Bibi.. Apa yang terjadi?” Tanya Sungmin langsung. Mendengar seseorang bertanya. Sontak Bibi Kim yang mendengar pun langsung menghambur kearah Sungmin. Wanita paruh baya itu nampak tak kuasa membendung tangisnya ketika melihat Sungmin. “Mereka akan mengambil alih panti ini.. Mereka ingin menghancurkannya.” ujar Bibi Kim.

 

Sungmin begitu terkejut mendengar ucapan Bibi Kim. Menghancurkan? Lalu bagaimana nasib anak-anak disana? Sungmin tak bisa berkata-kata tentang masalah ini. Dan keputusan awal yang dia ambil ialah menyuruh Bibi Kim untuk masuk terlebih dahulu ke dalam dan untungnya dipatuhi oleh wanita itu.

 

“Permisi.. Tuan-tuan..” Sungmin kembali mengeluarkan suaranya dan nampak sedang ingin berbicara pada orang-orang yang sedang akan menggeledah isi panti. “Atas dasar apa panti ini akan dihancurkan? Apa kalian sudah membawa surat resminya?”

 

Seorang pria berjas hitam yang berada disana pun dengan cepat menjawab pertanyaan Sungmin. “Maaf Tuan, secara sah dan sesuai keputusan pengadilan seminggu yang lalu. Panti ini sudah berpindah alih kepemilikan. Ini dikarenakan karena ketidakmampuan pemilik terdahulu untuk melunasi hutang-hutangnya pada perusahaan.” Perusahaan ini begitu licik, Sungmin sangat mengetahui taktik permainan yang dimainkan oleh perusahaan ini untuk menjebak Bibi Kim dan mengambil alih panti. “Kalian merubah isi kontraknya. Kalian menipu pemilik terdahulu.” Bela Sungmin. “Kalian mengatakan bahwa masa pembayaran adalah 5 tahun.. Tapi ini belum 2 tahun dan kalian sudah melaporkannya pada pengadilan dan merubah kontraknya secara sepihak.”

 

Pria berjas hitam lainnya nampak geram dengan ucapan Sungmin dan maju ke depan untuk ikut berbicara. “Tapi dikontrak tertera jelas bahwa Pihak B yang merupakan pemilik terdahulu menyetujui apabila Pihak A ingin melakukan revisi pada isi kontrak.” Sungmin menganga mendengar ucapan pria di depannya. Sebenarnya apa yang diinginkan mereka? Apa untungnya menghancurkan tempat yang tidak seberapa ini?

 

“Ada apa?” Sungmin mendengar sebuah suara yang terdengar tidak begitu asing di telinganya. Dan sementara itu semua pria berjas hitam yang berada disana sontak membungkukkan badan penuh hormat pada lelaki yang merupakan Kyuhyun tersebut. “Apa anda orangnya?”

 

Kyuhyun kembali menoleh kearah Sungmin yang kembali bersuara. Ketika ia berada di dalam mobil dan melihat Sungmin muncul. Ia benar-benar tidak menyangka. “Ya. Aku orangnya.” jawab Kyuhyun datar.

 

Sungmin menarik nafas panjang dan menghelanya sebelum ia kembali ingin bersuara. “Apa anda tidak memiliki perasaan sama sekali?” Ujar Sungmin. “Ya! Kau berani-beraninya..!” Seorang pria berjas hitam langsung menyela ucapan Sungmin yang dianggapnya begitu kurang ajar pada atasannya. Namun pria itu tak lagi melanjutkan ucapannya saat Kyuhyun mengangkat tangannya untuk meminta si pria agar diam dan tak ikut campur. “Apa membuat panti ini hancur bisa membuat anda merasa bahagia?” sekali lagi Sungmin melontarkan ucapannya kearah Kyuhyun.

 

“Saya benar-benar tidak tahu bagaimana anda tumbuh dewasa. Tapi mengetahui bahwa anda adalah seorang pemimpin sebuah perusahaan. Saya rasa anda tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana rasanya tumbuh tidak memiliki orangtua.” Kyuhyun tetap diam dan tak melakukan apapun atas ucapan Sungmin padanya. Sementara itu.. Asisten pribadi Kyuhyun yang selalu berada di sampingnya pun nampak melirik atasannya itu dengan ekspresi cemas. Sebagai seorang asisten, dia begitu mengetahui latar belakang Kyuhyun. Salah besar jika pria buta di depan mereka ini mengatakan bahwa Tuan Kyuhyun tidak bisa merasakannya. Malah Tuan-nya itu bisa sangat merasakannya.

 

“Hidup dengan kedua orangtua yang menyayangi anda. Itu kan yang anda dapatkan? Tapi mereka yang berada di panti ini tidak seberuntung anda.” Asisten Kyuhyun kembali melirik cemas kearah atasannya. Bahkan yang paling menyedihkan.. Tuan Kyuhyun tidak pernah mendapatkan airmata ibunya yang menangisinya dan mendapati bahwa ibunya lebih memilih untuk mengurusi anak-anak lain di panti ini daripada mengurusi puteranya sendiri.

 

“Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Bagaimana bisa anda juga harus mengambil tempat ini?” Kyuhyun masih bertahan pada kebisuannya. Ekspresi pemuda itu begitu tak terbaca. “Saya tahu anda pasti memiliki orangtua yang luar biasa begitu menyayangi anda. Tapi.. Pikirkan anak-anak disini. Tidak bisakah anda memberikan nurani anda sedikit saja?” Sungmin mengakhiri segala ucapannya dengan satu tarikan nafas. Pemuda manis itu sedang menunggu balasan dari sosok di hadapannya ini.

 

“Begitukah?” Akhirnya setelah lama diam. Kyuhyun kembali bersuara. Sungmin lagi-lagi merasa familiar dengan suara ini. Tapi dia tidak bisa memastikan suara siapa ini? “Kau tidak tahu apapun.” Sungmin terdiam saat mendengar ucapan pria yang beberapa saat yang lalu ia ajak bicara tersebut. “Kalau aku bilang jika anak-anak itu lebih beruntung daripadaku.. Apa kau akan percaya?” Kyuhyun menatap Sungmin yang diam di posisinya. Kasih sayang ibunya.. Kasih sayang wanita yang melahirkannya. Semuanya tertuju pada anak-anak itu dan tidak bersisa sama sekali untuk Kyuhyun. “Kau tidak akan percaya kan? Karena kau melihat dari satu sudut pandang saja.” setelah mengatakan hal itu. Kyuhyun berbalik dan meninggalkan tempat itu disusul oleh asistennya. Ketika ia sudah memegang pintu mobil dan akan beranjak masuk. Kyuhyun diam sejenak dan berkata. “Batalkan.. Serahkan lagi panti ini pada pemiliknya.” Ucap Kyuhyun datar dan membuat si Asisten tercenung tak percaya. “Tapi.. Ada apa? Kenapa Tuan tiba-tiba..”

 

“Aku kehilangan minat, itu saja.”

 

.

 

.

 

Keesokan harinya. Sungmin duduk diam di dalam mobil dengan Donghae yang berada di kursi kemudi. Sudah berlalu beberapa hari dan ia masih memikirkan tentang kejadian itu, kejadian dimana ia yang entah bagaimana merasa sedikit menyesal ketika selesai mengatakan hal itu pada laki-laki yang Sungmin saja tidak tahu namanya beberapa hari yang lalu di panti milik Bibi Kim. “Hyung benar-benar tidak ingin kutemani? Makan sendirian apa enaknya?” Donghae baru saja memberhentikan mobilnya tepat di sebuah rumah makan sederhana. Mendengar ucapan Donghae membuat Sungmin langsung tersadar dari lamunannya.

 

“Tidak perlu, kau juga harus bekerja. Aku sudah biasa makan sendiri. Tenang saja.. Bibi yang punya restoran sangat baik. Aku biasanya ditemani makan olehnya.” Sungmin meraba-raba sabuk pengamannya dan membukanya. Donghae mengambil tongkat Hyung-nya yang berada di kursi belakang dan memberikannya pada Sungmin. “Kalau sudah selesai dan ingin pulang. Telepon aku atau Kibum.. Araso?” Sungmin mengangguk dan membuka pintu kemudian melangkah keluar. Setelah mobil Donghae sudah pergi. Sungmin dengan pelan berjalan menuju pintu restoran sederhana itu dan membuka pintu.

 

“Sungmin.. Kau sudah datang?” Sebuah suara wanita paruh baya terdengar dan berhasil membuat Sungmin tersenyum. “Maaf bibi.. Apa aku terlalu lama?”

 

“Tidak.. Ayo cepat duduk.” Wanita itu dengan hati-hati menggiring Sungmin ke sebuah meja yang sudah terhidang sebuah mangkuk sup disana. “Memangnya ada apa bibi memintaku untuk datang?” tanya Sungmin. Wanita paruh baya itu mengambil sendok dan memberikannya pada Sungmin. “Hanya ingin berterima kasih atas bantuan tentang panti kemarin. Bibi dengar.. Kau mengatakan sesuatu pada atasan mereka dan membuat atasannya berubah pikiran.” Sungmin kembali terdiam saat diingatkan lagi pada kejadian itu. “Dan lagipula, hari ini hari ulang tahun anak bibi. Kau lupa ya?”

 

“Ah..” Sungmin mulai paham. Ini bukan pertama kalinya dia disuruh datang oleh Bibi Kim untuk memakan sup rumput laut. Bibi Kim pernah bercerita bahwa ia memiliki seorang anak dan ketika anaknya itu berulang tahun maka dia ingin agar Sungmin memakan Sup rumput laut untuk menggantikan anaknya yang tidak bisa Bibi Kim pinta untuk memakannya. “Kau sudah seperti anak bibi sendiri. Jadi apabila bukan anak bibi yang memakannya. Bibi ingin merayakannya denganmu. Ayo dimakan.”

 

Sungmin mulai menyendokkan makanannya dan memakannya. “Enak seperti biasa.. Bibi memang yang terhebat.” ujar Sungmin membuat bibi Kim tersenyum. “Makanlah yang banyak.. Kalau mau lagi juga masih ada.” Sungmin tersenyum dan kembali memakan supnya. “Ngomong-ngomong ini ulang tahun ke berapa?” Tanya Sungmin. “28.” Jawab Bibi Kim. Sungmin mengangguk. “Umurnya sama seperti adikku.” Ujar Sungmin. “Sungguh? Kalau begitu lain kali ajak adikmu makan disini.. Bibi ingin melihatnya.”

 

“Dia terlalu gila kerja.. Tapi nanti aku akan mengajaknya. Bibi tenang saja.”

 

.

 

.

 

Kyuhyun menatap bangunan sederhana itu dengan ekspresi datar dari dalam mobil mewahnya. Sejenak pintu yang dia pandangi dari tadi pun terbuka. Menampakkan sesosok wanita paruh baya disana. Kyuhyun memandangi sosok itu dengan datar.. Orang itu nampak tersenyum bahagia. Baguslah.. Sepertinya dia tidak merasakan apapun di hari ini. Atau mungkin dia lupa kalau pernah melahirkan seorang bayi pada tanggal ini. Kyuhyun memperhatikan sosok wanita itu sedang berbicara pada seorang pria tepat di depan restoran. Wanita itu nampak memberikan sebuah payung pada pria itu. Kyuhyun mendongak menatap langit.. Dan memang langit sudah gelap. Sejenak Kyuhyun merasa begitu sakit hati. Wanita itu masih bisa tersenyum bahkan masih bisa mencemaskan seseorang agar tidak kehujanan. Tapi sebagai gantinya ia nampak tidak peduli dengan tanggal hari ini.

 

Sedikit demi sedikit kaca mobilnya mulai mengabur akibat air hujan yang mulai turun dan semakin deras. Kyuhyun kembali memasang sabuk pengamannya dan memutuskan untuk pergi dari sana.

 

Kyuhyun mengemudikan mobilnya dengan perlahan. 28 tahun.. Apa istimewanya bertambah umur untuknya? Tidak ada yang istimewa sama sekali. Kyuhyun terus melajukan mobilnya menembus derasnya air hujan. Untuk sesaat matanya menangkap sesosok yang begitu tak asing sedang berjalan di pinggiran jalan kota dengan sebuah tongkat dan payung di kedua tangannya. “Lee Sungmin?” Gumam Kyuhyun menyebutkan nama itu. Sekali lagi ia melirik sosok itu dan dengan jelas menatap wajahnya. Kyuhyun dengan cepat membuang wajahnya dari Sungmin. “Apa peduliku?” ujar Kyuhyun datar. Pemuda itu terus melajukan mobilnya melewati Sungmin. Namun semakin jauh mobilnya maka semakin sering Kyuhyun melirik kaca spionnya.

 

Kyuhyun berusaha dengan sekeras mungkin untuk mengabaikan orang itu. Namun makin lama ini membuatnya gelisah. Kyuhyun menghentikan mobilnya. Ia menoleh kearah belakang dan menatap sosok itu sekali lagi.

 

Kyuhyun menarik nafasnya panjang dan membenamkan wajahnya pada stir kemudi. Kembali ia mengangkat kepalanya dan akhirnya memutuskan untuk memundurkan mobilnya. Saat posisi mobilnya sudah tepat. Kyuhyun dengan cepat keluar dari mobil dan menembus hujan begitu saja.

 

Saat sudah berada di hadapan Sungmin. Pemuda itu dengan cepat menarik payung yang sedang dipegang Sungmin lalu meraih tangan yang sudah tidak memegang apa-apa itu. “Ini Kyuhyun.. Aku akan mengantarmu.”

 

.

 

.

 

sungmin mendengar suara pintu mobil yang baru saja terbuka. Kyuhyun masuk ke dalam mobil dan membawa dua cup mie instan di tangannya. Pemuda itu meletakkan terlebih dahulu cup itu di suatu tempat dan masuk ke dalam mobilnya kemudian duduk. “Ini..” Sungmin memasang ekspresi bingungnya. Dia tidak mengerti atas ucapan Kyuhyun. Kyuhyun menarik nafasnya panjang. Ia baru sadar kalau orang ini tidak bisa melihat. Akhirnya pemuda itu meraih tangan Sungmin dan memberikan cup itu pada Sungmin. “Makan ini.. Biar hangat. Aku juga memakannya.” Setelah Cup itu sudah berpindah tangan. Kyuhyun pun mulai mengambil cup-nya kemudian memakan ramen-nya. Sungmin terdiam.. Namun sesaat kemudian ia sudah meraba cup yang berada di tangannya itu dan memegang sumpit. “Terima kasih..”

 

Kyuhyun melirik Sungmin yang baru saja mengeluarkan suaranya. “Eum.” Balas Kyuhyun hanya dengan gumaman. Sungmin tersenyum tipis ketika memakan ramen itu. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa seorang konglomerat seperti Tuan Kyuhyun juga bisa makan ramen instan yang dijual di supermarket di pinggir jalan.

 

Waktu berjalan dengan begitu cepat dan nampak Kyuhyun meletakkan cup ramen-nya yang sudah kosong dan mengeluarkan botol minumnya lalu meminum isinya. Kyuhyun kembali melirik sungmin yang juga baru saja menghabiskan ramen-nya. Untuk sesaat Kyuhyun merasa bingung. Dia hanya punya satu botol. “Minumlah.” Tanpa pikir panjang Kyuhyun langsung menyodorkan air minumnya pada Sungmin dan kembali meraih tangan itu agar mengambil botol itu. Sungmin lagi-lagi merasa kaget dan walaupun begitu ia masih berterima kasih pada Kyuhyun. “Terima kasih..”

 

Setelah meminumnya. Sungmin nampak ingin mengatakan sesuatu. Namun ia merasa ragu. Kyuhyun yang memperhatikan Sungmin pun sadar dengan ekspresi resah Sungmin tersebut. “Ada yang ingin kau katakan?” tanya Kyuhyun. Sontak membuat Sungmin terlonjak. “Ti.. Tidak ada.” Jawab Sungmin.

 

Kyuhyun hanya menatap Sungmin datar. Pemuda Cho itu tidak berniat untuk kembali bertanya. Namun merasa bahwa sosok di sampingnya itu masih begitu gelisah. Membuat Kyuhyun penasaran.

 

Sungmin diam dan tak berniat untuk bicara apapun lagi. Ia begitu berterima kasih pada pria yang berada di sampingnya ini. Sungmin menundukkan wajahnya semakin dalam. Sejujurnya saja dirinya begitu penasaran akan orang seperti apa Kyuhyun sebenarnya. Bagaimana matanya.. Bagaimana hidungnya.. Dan bagaimana wajahnya. Setelah 10 tahun waktu berlalu.. Hari ini untuk pertama kalinya ia begitu menginginkan dirinya yang bisa melihat. Ia.. Ingin sekali melihat wajah Kyuhyun.

 

Waktu berjalan begitu saja. Dan akhirnya Kyuhyun berhenti tepat di depan sebuah gedung apartemen. Disini kah tempat tinggalnya? Kyuhyun menoleh kearah Sungmin dan kembali terdiam mendapati bahwa orang ini lagi-lagi tertidur saat bersamanya. Apa begitu membosankannya bersama dirinya ini?

 

Kyuhyun melepas sabuk pengamannya. Dan setelah itu Kyuhyun tidak melakukan apapun lagi. Pria itu hanya duduk terdiam sembari memandangi wajah lugu milik Sungmin. “Di panti. Di kantorku. Di taman. Dan saat ini di pinggir jalan sekalipun aku selalu bertemu denganmu.” Kyuhyun berujar mengeluarkan sesuatu yang begitu ia tahan. “Apa kau hantu? Kenapa kau selalu ada dimana-mana?” tanya Kyuhyun seperti orang bodoh. Pemuda itu beringsut dari posisinya dan mendekat kearah Sungmin. Kyuhyun meraih sabuk pengaman Sungmin dan melepasnya. Namun ketika ia mendongak saat itu juga Sungmin yang masih tertidur pun tanpa sengaja menolehkan wajahnya sehingga benar-benar menghadap Kyuhyun. Kyuhyun tertegun begitu lama. Memandangi wajah ini.. Membuatnya tidak berkutik.

 

Kyuhyun ingin mundur saat ini juga. Tapi sesuatu yang lain mencegahnya. Lee Sungmin, ketika ia bersama orang ini dirinya selalu ingin melindunginya. Ketika ia bersama orang ini ia merasa bertingkah bukan seperti dirinya yang biasanya.

 

Kyuhyun meneliti tiap jengkal wajah Sungmin. Dagu, bibir, hidung, dan terakhir ialah mata. Kyuhyun perlahan mendekatkan wajahnya dan spontan menutup matanya. dan saat itu juga akhirnya ia mencium Sungmin.

 

Hari ini.. tepat di hari ulang tahunnya yang selama 28 tahun ini ia anggap biasa-biasa saja. Ia mencium Lee Sungmin untuk pertama kalinya.

 

.

 

.

 

Kibum menepuk-nepuk kemejanya yang basah akibat air hujan. Pemuda itu baru saja memasuki mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Ketika ia baru saja sampai di ruangannya pasca melakukan operasi ia mendapatkan telepon dari Donghae. Pemuda itu memintanya untuk menjemput Sungmin di suatu tempat. Namun sesampainya disana.. Ia tidak berhasil menemukan Sungmin.

 

Ia juga sempat bertanya pada bibi pemilik toko dan wanita itu berkata bahwa Sungmin sudah terlebih dahulu pulang. Mendengar ucapan wanita itu pun membuat Kibum langsung membungkukkan badan seraya berterimakasih. Kibum membalikkan tubuhnya dan mendongak menatap langit. Hujan begitu deras, apa Sungmin sudah sampai di apartemen dengan selamat? Apa orang itu tidak kehujanan?

 

Kibum dengan cepat berlari sembari menembus derasnya air hujan menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan dan sampailah dia sekarang di dalam mobil dalam kondisi basah kuyup.

 

“Dia benar-benar keras kepala.” Kibum sangat pusing memikirkan Sungmin. Kenapa dia malah pulang begitu saja dan tidak menunggu dirinya atau Donghae untuk datang menjemput? Pemuda itu selalu ingin melakukan sesuatu sendirian. Kibum menjulurkan tangannya dan mengambil sebuah handuk kecil yang berada di kursi belakang sebagai alat pengering tubuhnya yang basah.

 

Setelah selesai akhirnya dirinya pun memutuskan untuk kembali menghidupkan mesin mobil dan melaju. Kibum meraih ponselnya dan nampak sedang mengetik sesuatu disana. Pemuda Kim itu tersenyum simpul saat menatap layar ponselnya. Hari ini adalah hari dimana dirinya bertemu dengan Sungmin pertama kalinya 3 tahun yang lalu. Persahabatan mereka sudah berjalan 3 tahun. Kibum tersenyum lebar mengingatnya. Jadi hari ini dia ingin mengajak Sungmin untuk merayakannya dengan makan di luar.

 

“Berhubung hari ini adalah perayaan persahabatan kita, kurasa membuatku kehujanan seperti ini tidak akan terlalu kupermasalahkan.” Kibum berujar dan kembali meletakkan ponselnya. Pemuda itu menghentikan dan meminggirkan mobilnya saat setelah ia merasa sudah sampai tepat di depan apartemen milik Sungmin. Kibum melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun. Namun saat itu juga matanya berhasil menangkap sebuah pemandangan yang begitu tidak ia sangka-sangka.

 

Disana.. Di dalam sebuah mobil yang berada di depan mobilnya. Ia melihat seseorang sedang mencium Sungmin. Pegangan Kibum pada pintu mobil yang sudah mengerat langsung longgar begitu saja. Ia tahu bahwa tubuhnya masih basah akibat air hujan beberapa saat yang lalu. Tapi kenapa ia merasa suhu tubuhnya kian bertambah dingin saat ini.

 

Sekuat tenaga Kibum menjernihkan pikirannya dan mencoba tersenyum saat itu. Ia tengah memikirkan sesuatu, bukankah akan menjadi lebih baik apabila Sungmin memiliki seseorang yang berada di sampingnya? Tidakkah itu akan melegakan? Kibum rasa dia harus menyelamati sahabatnya itu.. Tapi.. Kenapa ini terlalu sulit untuk dilakukan?

 

.

 

.

 

Cont-

 

Chapter 4 update! Okeeee.. Kayaknya ini update-an terakhir di bulan april mengingat mei di kampus saya udh masuk bulan UAS. Dan untuk yang kemarin minta chapter yang panjang-panjang.. Entah kenapa untuk FF ini saya ga bisa tahu udh panjang atau belum. 0.o

 

Dan juga.. Di review kebanyakan nanya Kenapa Sungmin ga mau operasi? Itu bakal dijawab suatu saat nanti tapi entah kapan😄 dan juga ada yg nanya.. Kibum bakal suka ga sih ama Sungmin? Nahh itu silahkan analisa sendiri dari Chapter ini. Dan lagi.. Ada yg nanya.. Sungmin nanti bisa liat nggak? Jawabannya iya. Dan itu belum tau kapan😄 dan yg paling sering ditanya itu.. Apa yang bakal dilakuin Donghae? Kita lihat saja sepak terjang abang satu ini *plak dan kenapa mesti Kibum? karena saya kangen ama dia T.T

 

Akhir kata terima kasih sudah membaca dan menyempatkan diri me-review. Mohon doanya buat kelancaran UAS saya ya teman-teman ^^

About kpopfanficcouple

Please leave comment after you read thx ^^

7 responses to “– Windowpane – Chapter 4 – KyuMin – Boys Love –”

  1. tika137 says :

    kasih bingung sama perasaan Kyuhyun sama Kibuk ke Sungmin. dan oh,,, apa Donghae nanti balas dendam lewat KAkaknya yah…

  2. ♥afny kyumin♥ says :

    Omg…. kyunnie bukan anak kandung dari tuan dan nyonya cho ????
    Kenapa kyunnie di jual ????
    Apa sebenarnyaaaa yg terjadiii chizawa saeng o.0
    ~ I need flasback ~

    Apakahhhh kaca mobil kyunnie tembus pandang ???? Kenpa g pake kaca 80% kyunnie saeng.. jdi klw mw berbuat mesum dgn sungmin tak nampak Hahah #plak abaikan saeng :p

    Oughttt… apakahhh donghae yg bakalan memenangkan tender dan membuat kyunnie bangkrut ??? Apakah dongekkk bakalannn balas dendam ke kyunnie dengan memakai minnie kakaknya sendiri ???

    Oooooooo000000 chizawa saeng masihhh banyakkk yg belommm terpecahkan… palli next chap nya yach… good luck 4 uas …

    Pokokeeeee hwaiting ㅎ와띵

  3. Anis dasela says :

    next chap dong hehe
    ga sabar nungguin kelanjutan ceritanya,ff nya top dehh,keren.
    Aku baca dari chap 1-4 tapi baru komen skrg wkwk sori ya ehehe
    pokoknya next chap jan lama2 ya:) ditunggu

  4. NiCho2097 says :

    miris banget si kyuhyun😦

  5. niefi3ani says :

    kisseu ^_^😉 sayang min’y g nyadar🙂

  6. citra_ratna 868 says :

    Kyuhyun arti’a bukan anak dr orang kaya tu ea…kibum pa jangan” di suka ma sungmin ??

  7. regita says :

    kayak bakalaan ada cinta segitiga nih ?
    antara kyuhyun-sungmin-kibum ?
    wuaaahh makin seru ~!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: